Jumat, 25 Maret 2016

Foto: Putri Akmal/detikcom
Banyuwangi - Ajang seni budaya Banyuwangi Festival kembali digelar untuk ke empat kalinya. Tahun ini, kalender wisata tahunan lebih variatif. Mulai kekayaan seni dan budaya, event olahraga pariwisata, hingga festival unik dan kreatif.

Ada 60 event dihelat sepanjang tahun 2016. Agenda tahunan berskala besar ini ada yang digelar langsung dan dibiayai oleh APBD, pihak swasta dan dikelola mandiri oleh masyrakat adat.

Puluhan event itu seperti International Tour de Banyuwangi Ijen (11-14 Mei), Banyuwangi Batik Festival (9 Oktober), Jazz Pantai (27 Agustus), Festival Gandrung Sewu (17 September), dan Banyuwangi Ethno Carnival (12 November), akan dilengkapi sejumlah event baru yang lebih semarak.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, Banyuwangi Festival digelar untuk mempromosikan pariwisata sekaligus memaksimalkan potensi daerah.

"Kami angkat belasan tradisi lokal. Selain untuk menjaga keberlanjutannya, ini adalah ikhtiar untuk mengenalkan kebudayaan lokal kepada publik global. Kami ingin memberikan apa yang disebut dengan 'Banyuwangi Experience', yang tak akan bisa dijumpai di daerah lain," kata Anas.

Penyelenggaranya pun makin lengkap karena ada event yang dihelat langsung oleh dunia usaha, dan pemerintah pusat. Bertambahnya jadwal Banyuwangi Festival ini lantaran pihak Pemkab memasukkan agenda tradisi budaya yang sudah mengakar di desa-desa adat Banyuwangi.

"Kami berdiskusi dengan Dewan Kesenian Blambangan, sepakat memasukkan tradisi masyarakat yang tahun-tahun lalu belum dimasukkan ke agenda Banyuwangi Festival. Seperti tradisi arung kanal di kawasan Bangorejo, Puter Kayun di kawasan Boyolangu, dan Gredoan. Bahkan kita gelar Festival Lagu Using. Semua tak lain hanya untuk mengenalkan budaya Banyuwangi ke khalayak luas," ujar Anas.

Sejumlah tradisi asli Banyuwangi yang akan difestivalkan tahun ini antara lain Barong Ider Bumi, Tari Seblang, Tumpeng Sewu, Kebo-keboan, hingga tradisi lomba tahunan perahu layar.
 

"Kami juga menggelar Festival Padi dan Banyuwangi Fish Market Festival untuk menguatkan dan mempromosikan produk pertanian serta perikanan. Misalnya, bakal ditampilkan beras organik dan beras merah organik. Juga ada Agro Expo yang kami gelar saat durian merah ramai dipanen April nanti," ujar Anas.

Wakil Bupati Banyuwangi Yusuf Widyatmoko menambahkan, tahun ini juga digelar banyak event musik. Mulai dari jazz hingga musik khas Banyuwangi dalam Festival Lagu Using. Akan ada pula Ijen Summer Jazz yang digelar tiga kali dalam setahun. Acara ini sepenuhnya dihelat Java Banana, dunia usaha yang bergerak di bidang resor.

"Mulai muncul inisiatif dunia usaha untuk ikut berpartisipasi mempromosikan daerah. Ini tren dan iklim yang bagus," kata Yusuf.

Bahkan, lanjut Yusuf, Banyuwangi juga akan menjadi tuan rumah Swarna Fest, event fashion yang digagas Kementrian Perindustrian yang mengkampanyekan penggunan warna alam pada bahan tekstil dan kerajian tangan.

Dari sisi sport tourism, ada International Tour de Banyuwangi Ijen, Festival Arung Jeram, Kite and Wind Surfing Competition, International Run, dan Banyuwangi International BMX. Selain itu, juga akan ada kembali Festival Toilet Bersih, Festival Sedekah Oksigen, dan Festival Sungai Bersih.

"Tak lupa ada Festival Kuliner. Tahun ini mengangkat sego cawuk setelah tahun sebelumnya ada rujak soto dan nasi tempong. Kuliner kami angkat agar makin dikenal dan depot-depot laris dikunjungi saat wisatawan datang ke Banyuwangi," kata Yusuf.


(fat/fat)





UAS PRAKTIK TIK

UAS Praktik TIK
SMP Negeri 2 Banyuwangi 
Oleh:Thoriq Prasetyo



Ujian Akhir Sekolah (UAS) *praktik SMP Negeri 2 Banyuwangimulai di laksanakn mulai tanggal 28 maret 2016.Sekolahku yang terletak di jalan Ranggawuni 41 ini memberikan penilaian pada mata pelajaran UAS Praktik TIK khususnya dalam bentu media blog atau weblok yang merupakan salah satu media untuk mengungkapkan wawasan,ide,pemikiran,catatan harian dan sebagainya,yang diisi secara terus menerus ataupun periodik dengan tujuan untuk diketahui oleh orang lain.

Saat ini banyak penyedia blog secara gratis dengan fasilitas yang cukup lengkap.Bagi pengguna internet,tentu tidak asing dengan istilah web blog atau blog yang diartikan sebagai situs yang dibuat oleh seseorang untuk mempublikasikan ide atau gagasan agar dapat di lihat orang lain melalui dunia maya/internet.

Blog akn berbeda dengan situs berita, dimana blog dapat berisi apa saja sesuka pembuatnya yang isinya cenderung lebih lugas,jujur,terus terang dan apa adanya khususnya dalam hal bahasa lebih dari pada suka suka penulisnya.Sementara itu situs berita lebih cenderung pada sisi pemberitaan suatu peristiwa yang di wartakan oleh seorang jurnalis/wartawan.Dalam Wikipedia Indonesia blog diartikan sebagai bentuk aplikasi web.

Baiklah,berikutini saya sampaikan materi UAS praktik TIK di sekolahku. UNTUK DOWNLOAD KLIK DISINI.....!

Kamis, 14 Januari 2016


  • Cerita pendek atau sering disingkat sebagai cerpen adalah suatu bentuk prosa naratif fiktif.Cerita pendek cenderung padat dan langsung pada tujuannya dibandingkan karya-karya fiksi lain yang lebih panjang, seperti nove (dalam pengertian modern) dan novel. Karena singkatnya, cerita-cerita pendek yang sukses mengandalkan teknik-teknik sastra seperti tokoh, plot, tema, bahasa dan insight secara lebih luas dibandingkan dengan fiksi yang lebih panjang. Ceritanya bisa dalam berbagai jenis      

INI ADA BEBERAPA CONTOH CERPEN


  1. Sebuah Kata Sederhana



    Cerpen Karangan: 

    Langit masih sama seperti kemarin, tanpa awan dan tanpa matahari, memperlihatkan ketidaksempurnaan di dunia ini. Mungkin itulah yang aku alami, ketidaksempurnaanku yang telah ditelan oleh bumi. Sudah hampir satu jam, aku menunggu di sini, melihat lautan manusia yang lalu lalang di hadapanku, menunggu seseorang yang akan membeli kueku.
    “Ini, untukmu.” kata seorang pria yang ada di hadapanku. Sembari memberikan uang kepadaku.
    “kau ingin membeli kueku?” Tanyaku.
    “Ah, tidak ambilah, kau pasti sangat memerlukan ini,”
    “Tidak tuan, ambilah beberapa kue sebagai pegantinya.”
    “Tidak terima kasih. Ambil saja uang ini.” kata Pria itu dan pergi begitu saja.
    Begitulah orang-orang memandangku, melihat pakaian lusuhku yang selalu menganggapku sebagai seorang pengemis. Sebenarnya aku tidak ingin mereka berpandangan seperti itu kepadaku. Mata mereka selalu memperlihatkan keprihatinan, dan terkadang mereka melihatku dengan pandangan jijik. Ya, berbalut dengan debu dan sampah yang selalu menempel di badanku, jadi tidak heran jika mereka akan selalu menutup hidung bila melintas di depanku. Seperti inilah aku, bebalut dalam ketidaksempurnaan yang telah ditelan oleh bumi.
    “Nenek, aku pulang.” Kataku saat kembali ke pondok kecilku.
    “Kamu sudah pulang Hana?” Tanya Nenek.
    Di sinilah aku hidup, di gubuk yang kecil, dan tinggal hanya berdua bersama nenekku. Hidup bersama dengan kekurangan yang selalu ada di dalam diriku. Betapa aku merindukan, kehidupanku yang dulu, dengan ayah, ibu, dan nenek. Saat mereka tidak ada lagi di sisiku, dunia seakan tidak berguna lagi untuk aku tempati, buat apa aku di dunia ini, jika aku sendirian? Buat apa aku melihat dunia, jika mata kananku sudah tidak berfungsi lagi? Sudah tidak ada gunanya lagi.
    “Nek, Buat apa aku ada di sini, jika aku rasanya aku tidak sempurna?” Tanyaku lirih.
    “Kau ada karena dunia membutuhkanmu. Sudah kamu tidur saja, kamu pasti lelah seharian berjualan.” Katanya sambil berlalu meninggalkanku.
    Aku hanya terdiam mendengar apa yang dikatakan Nenek. Kalau benar dunia ini akan membutuhkanku, kenapa aku terlahir tidak sempurna?
    Embun dengan riangnya menari di atas dedaunan yang hijau, dan mentari masih belum beranjak dari tidurnya. Ketika pagi akan datang saat itu juga aku akan beranjak pergi, memulai aktivitasku untuk mencari keping demi keping rupiah. Kan ku dahului mentari, ketika ia terbangun dia akan tahu betapa kerasnya aku menjalani hidup ini. Benar saja, ketika sang mentari terbangun ia tersenyum melihatku. Menyinari dengan panasnya bumi ini.
    Aku berhenti di sebuah gerbang sekolah. Tidak ada salahnya jika aku berjualan di depan sekolah ini. Walaupun hati sangat miris ketika melihat para siswa yang sebaya denganku, bisa mengenyam pendidikan. Tapi, apa daya kekuranganku ini yang menyebabkan tidak ada sekolah yang mau menampungku. Buat apa aku hidup jika aku ini bodoh? Dan aku yakin, kata-kata yang diucapkan nenek semalam hanyalah sebatas kata untuk menghiburku.
    “Juno, kau ingin membeli kue?” Tanya seorang gadis yang ada di hadapanku.
    “Lisa, kita kan baru saja selesai makan. Apa kau belum kenyang juga ya?”
    Gadis tadi yang berada di depanku pergi menjauh, dan membisikkan kata ke telinga laki-laki yang bersamanya.
    “Kami ambil 2 ya?” katanya. Aku memberikan dua bolu kering yang harganya hanya 2 ribu rupiah.
    “Simpan saja untuk kembaliannya?” katanya saat aku hendak memberikan kembaliannya.
    Mentari semakin memancarkan sinarnya, dan kini ia tepat berada di atas kepalaku. Satu persatu para siswa ke luar dari gerbang sekolah. Tidak tanggung-tanggung satu, dua mobil datang menjemput. “Berarti ini sekolah ini sekolah khusus orang-orang elit.” pikirku.
    “Hei! siapa yang mengizinkanmu berjualan di sini?!” kata seorang laki-laki yang masih berseragam, yang tiba-tiba datang menghampiriku.
    “Satpam di sini tidak melarangku kok.” jawabku.
    “Aku yang melarangmu! Cepat pergi dari sini!”
    Aku hanya terdiam, aku diam karena aku memang tidak bersalah. Dari awal aku berada di sini aku belum melihat tulisan larangan untuk berjualan di sini. Satpam di sekolah ini juga tidak mengusirku sejak tadi. Lalu kenapa laki-laki yang ada di hadapanku berlagak seperti ia memiliki sekolah ini? “Aku bilang cepat pergi!” bentak laki-laki itu sambil menendang tempat kueku.
    Aku hanya bisa terdiam dan melihat kue-kueku yang jatuh di tanah. Kue itu sudah tidak bisa dijual lagi, siapa yang akan membelinya jika sudah berada di tanah seperti itu? Inikah perlakuan yang aku terima dari orang yang mempunyai jabatan seperti dia? “Coba lihat, dia memang kasar, mentang-mentang Ayahnya pemilik sekolah ini, perlakuannya sangat sombong.” Bisik seorang siswa yang berada tidak jauh dariku.
    Jadi aku tahu mengapa ia memperlakukan aku seperti ini. Ternyata dia pemilik sekolah ini. Pantas saja kelakuannya lebih sombong. Orang yang memiliki jabatan dan kedudukan yang tinggi selalu memandang rendah orang seperti aku. Aku memungut kembali kue-kueku yang jatuh. Tidak ada gunanya lagi jika aku terus berada di sini. Semua orang memandang jijik ke arahku. Dan dia menatapku bagaikan sampah yang tidak berguna.
    Mereka yang tidak tahu bagaimana sulitnya kehidupanku, tentu hanya akan memandangku seperti itu. Aku berjalan meninggalkan sekolah elit itu. Aku putuskan untuk pergi ke suatu tempat. Aku sudah tidak bisa menjual kueku ini, apa yang akan aku katakan pada nenek kalau seperti ini? Haruskah aku memakan nasi garam lagi? Tuhan kenapa hidup ini tidak adil? Kenapa Engkau memberikan begitu banyak penderitaan padaku. Dosa apa yang telah aku lakukan hingga aku terlahir dengan begitu susah seperti ini.
    Aku sampai ke sebuah Pura, tempat yang sangat sejuk dan damai untuk menenangkan diriku. Sebuah kolam yang berada di pintu masuk Pura, menambah kesan sejuk saat aku memasuki tempat suci ini. Aku duduk di wantilan Pura itu. Aku sesekali aku melihat ke dalam Pura, untuk memastikan kalau tidak ada orang di sini. Iya, aku memang sendiri sekarang ini. Hanya ada Aku dan Tuhan yang berada di sekitarku. Aku bahkan bisa merasakan kehadiran-Nya di dalam diriku. Tuhan, memang sangat ahli membuat diriku tenang seperti memberikan energi yang bisa memberikan aku semangat kembali.
    “Bukannya, kau pedagang yang ada di depan sekolah tadi?” Aku membuka mataku saat aku mendengar suara itu.
    Aku melihat seorang laki-laki berdiri di depanku. Dia memakai pakaian adat Madya dengan sesaji di tangan kanannya. Ku lihat dari kejahuan mulai banyak para siswa mulai berdatangan, seperti akan ada sebuah persembahyangan di sini. Tanpa berpikir panjang, ku langkahkan kaki kecilku dan pergi meninggalkan Pura. Aku tidak ingin dilihat oleh semua siswa itu, aku tidak ingin mereka mengasihaniku. Melihat mereka mengunakan seragam putih abu-abu membuat aku sakit hati.
    “Hei!” Aku bisa mendengar dia memanggilku, tapi aku tidak peduli, bagaimana pun juga aku tidak boleh berada di sini. Kekuranganku hanya membuat mereka memandang rendah diriku.
    “Nenek aku pulang.” Kataku saat aku tiba di rumah. Tapi, Nenek tidak merespon panggilanku. Mungkin Nenek sedang istirahat pikirku. Aku tidak akan menganggunya, beliau sudah cukup lelah bekerja di kebun sebelah.
    Titik kecil itu kembali bersinar di malam yang gelap hari ini, ada sebuah kisah bila kita melihat bintang jatuh doa kita bisa terkabul. Apakah hal itu bisa terjadi, bisakah aku melihat bintang jatuh sekarang? Agar semua doaku bisa terkabul. Jika itu benar adanya izinkan aku untuk melihatnya sekali saja, aku hanya ingin sebuah kebahagiaan. Aku hanya ingin mendapatkan itu. Titik kecil yang bersinar itu memperlihatkan keindahannya, dia terjatuh. Aku pejamkan mataku dan mulai berdoa, berdoa untuk aku dan Nenekku. Dan sebuah kebahagiaan yang ingin aku cari.
    “Sudah aku bilang aku tidak ingin berada di sana, rumah itu sama saja dengan sebuah penjara, kau tahu!” Aku mendengar suara teriakan yang tidak jauh dari rumah. Siapa kiranya malam begini berada di sini. Aku melihat seorang laki-laki, sebuah handphone masih menempel di telinganya. Wajahnya tidak asing lagi, tidak salah lagi dia adalah laki-laki yang pemilik sekolah elit tadi. Yang dengan kasarnya menghancurkan tempat jualanku. Untuk apa dia berada di sini, tersesatkah?
    “Di mana aku sekarang ini?” Pikir Nicky, dia sendiri tidak tahu harus ke mana setelah apa yang ia lihat di rumahnya.
    Yang ia inginkan hanyalah pergi sejauh mungkin dari rumah yang bagaikan sebuah penjara baginya. Ia bahkan tidak pernah bertatap muka langsung dengan kedua orangtuanya. Sampai pada akhirnya ia berada di sebuah gang sempit, dan melihat sebuah rumah atau ia mungkin melihatnya sebagai sebuah gubuk dan tidak pantas untuk ditinggali. Dan ada seorang gadis yang sedang duduk di depan rumah itu, kepalanya melihat ke atas, tapi matanya terpejam. “Apakah, dia sedang berdoa? Tapi, wajahnya tidak asing lagi. Di mana rasanya aku melihatnya?” Pikirnya. Handphone-nya berdering, dan Nicky menjawab panggilan dari handphone-nya.
    “Apa yang kau lakukan di sini?” Kataku.
    Dia tampak tersentak saat aku tiba-tiba datang, nampaknya dia sangat terkejut dengan kehadiranku. Bagaimana ia tidak kaget dengan penampilanku ini, mataku saja hanya satu yang berfungsi, tentunya saja orang-orang yang melihatku malam-malam seperti, pasti mengira kalau aku ini adalah hantu. “Aku hanya sedang berjalan-jalan di sini. Tidakkah kau lihat aku ini ingin melihat bagaimana orang-orang sepertimu menjalani sebuah kehidupan.” Katanya. Memang seperti yang aku pikirkan, dia sangatlah sombong dan merendahkan kaum sepertiku.
    “Jadi begitu? Lanjutkan saja penelitian kehidupanmu itu tentang orang-orang sepertiku itu.” Aku pergi meninggalkannya.
    Aku tidak peduli dengan orang kaya, pejabat, atau apalah dia yang beraninya merendahkan orang-orang miskin sepertiku ini. Aku biarkan dia terpaku di sana, awan gelap mulai menyelimuti bintang, nampaknya hujan akan turun. Ah, aku tidak peduli dengannya toh dia selalu memandang kami dengan sebelah mata. Walaupun mataku tidak normal, tapi aku masih bisa melihat dengan mata hatiku, karena kehidupan ini tidaklah mudah. Tidak akan ada langit jika tidak ada bumi, tidak akan ada pelangi yang muncul sebelum hujan. Karena hidup penuh dengan sakit dan susah. Dan hanya sebuah kebahagiaan yang bisa mengatasinya.
    Air mulai jatuh dari langit, berlahan hingga akhirnya turun dengan derasnya. Aku menuju ke kamar Nenekku, ku lihat wajahnya. Kerutan yang ada di wajahnya memperihatkan betapa kerasnya selama ini ia menjalani sebuah kehidupan. Aku Tarik sebuah selimut dan mulai menyelimutinya. Walaupun hanya beralaskan tikar bambu, aku tidak ingin Nenek kedinginan. Aku melihat ke luar, hujan turun makin derasnya. Dan dia masih berdiri di sana. Ada rasa penyesalan dan kekecewaan yang terlihat di raut wajahnya. Apakah orang yang telah memiliki segalanya dapat merasa kecewa atau sedih? Bukankah dia sudah memiliki segalanya, seharusnya dia bisa hidup dengan bahagia, iya kan?
    “Haruskah aku kembali ke rumah. Tidak aku hanya ingin agar orangtuaku mencariku, aku hanya ingin tahu seberapa berharganya aku di mata mereka.” Pikir Nicky. Bagaimana pun dia tidak mau kembali ke rumahya, tempat itu hanya sebuah sandiwara, orang-orang melihat kalau keluarganya adalah keluarga yang bahagia. Mereka menganggap kalau uang adalah sumber kebahagiaan, tapi kenyataannya tidak. Uang hanya membuat mereka buta akan segalanya.
    “Kau akan mati kedinginan bila terus berada di sini.” Kataku sambil menaruh sebuah payung di atas kepalanya.
    Bagaimana pun orang itu memperlakukanku dengan tidak baik, tapi aku tidak bisa melakukan hal yang sama dengannya. Aku tidak bisa membalas dendam dengan seseorang yang telah menghinaku. Dengan membalas dendam tidak akan membuat seseorang bahagia. Dan biarkan Tuhan yang membalaskan dendam itu, karena aku yakin Tuhan sangatlah adil. Begitu juga denganku, aku telah hidup dengan penuh kesusahan dan aku tidak ingin seseorang sepertiku juga. Dia hanya diam saat aku memberikan payung kepadanya.
    “Kau mau tetap berada di sana, atau kau ingin ke tempatku untuk berteduh? Lagi pula kau tidak terlihat sedang jalan-jalan, wajahmu penuh dengan kekhawatiran.”
    “Bukan urusanmu! Sudah tunjukkan saja di mana kau tinggal aku akan berada di sana sampai hujan ini reda.” Jawabnya. Dasar munafik! Pikirku, kenapa aku harus bertemu dengan orang seperti ini. Sudahlah, lagi pula tidak ada salahnya membantu orang sombong seperti dia, lagi pula aku belum mengenalnya dengan baik. Mungkin saja dia memiliki sisi yang lain yang tidak banyak orang ketahui.
    “Jadi ini rumahmu? Ini rumah apa kandang ayam?” Aku sudah mengira dia akan berkata seperti itu saat melihat rumahku. “Rumah itu juga istanaku, kalau kau tidak ingin berada di sini kau bisa kembali ke rumahmu yang lebih bagus dariku.”
    “Aku kan sudah bilang, aku akan berada di sini, sampai hujan berhenti!”
    “Jangan berisik! Nenekku sedang tidur, dan aku tidak ingin membangunkannya. Kalau kau ingin berada di sini cukup diam saja jangan buat keributan.”
    Hujan turun makin derasnya, rasanya langit akan terus menurunkan air kehidupannya. Apakah langit sengaja memberikan situasi ini kepadaku? Terjebak dengan seseorang yang telah menghinaku dan aku sendiri aku tidak tahu dia siapa. Apakah langit sengaja memberikan aku sebuah ujian? Agar aku tidak dengan mudah membalas dendam dengan orang yang telah menghinaku? Aku sungguh tidak mengerti dengan situsi seperti ini. Aku melihat ke arahnya. Dia teridur, wajahnya Nampak lelah. Aku bahkan tidak tahu siapa namanya. Tapi ada satu hal yang membuatku merasa nyaman berada di dekatnya. Perasaan apa ini, aku sendiri tidak tahu.
    “Sudah sampai, ini rumahmu kan?” kataku saat kami tiba di sebuah rumah yang cukup mewah.
    “Emm, terima kasih karena kau sudah mau mengantarku.”
    “Nicky? Apakah itu kau? Dari mana saja kau semalam ini, Ibu berusaha untuk menghubungiku dan mencarimu.” Kata seorang wanita paruh baya yang ke luar dari rumahnya.
    “Oh, siapa kau? Ini ambil uang ini, dasar sepagi ini sudah ada seorang pengemis yang meminta di sini.”
    Wanita itu malah memberikanku uang, bukannya berterima kasih kepadaku karena telah mengantarkan anaknya. Begitukah perlakukan orang yang memiliki segalanya terhadapku? Apakah aku selalu rendah di matanya. Aku memberikan uang itu kepada Nicky dan pergi meninggalnya yang nampaknya khawatir kepadaku. Aku tidak peduli lagi, aku sudah muak dengan orang-orang yang memiliki uang, jabatan atau semacamnya. Mereka selalu merendahkan orang-orang yang seperti kami. Uang bukanlah alat untuk menyelesaikan masalah. Tapi uang hanya akan membuat masalah.
    Aku merasakan pipi sebelah kiriku hangat. Ah, aku menangis lagi, tidak seharunya aku menangis seperti ini. Harusnya aku bisa lebih tegar dengan perlakukan wanita itu, padahal sudah sering aku diperlakukan seperti ini. Tapi, kenapa aku bisa menangis seperti ini. Tanganku ditarik dan aku membalikkan badanku. Aku melihat sepasang mata itu lagi, sebuah mata yang sangat teduh dan memperlihatkan sebuah kebaikan dalam dirinya. Tangan kanannya menahan tanganku. Dan tangan kirinya berusaha untuk menghapus air mataku yang terus mengalir. Apakah ia ingin menghilangkan kesedihan yang selama ini menyelimutiku?
    “Maafkan aku? Dan maafkan Ibuku, aku tidak ingin kau pergi begitu saja. Aku bahkan belum sempat tahu namamu. Selama aku berada di dalam rumahmu semalam, aku jadi tahu bahwa sebuah kesedarhanaan itu jauh lebih indah, bahwa sebuah kebahagiaan bisa kita dapatkan saat melihat seseorang yang kita cintai itu ternyesum. Aku melihatmu begitu keras dalam menjalani hidup ini.”
    “Aku melihat bagaimana kau terbangun dini hari untuk membuat sebuah kue yang nantinya kau jual. Sedangkan aku masih tertidur dengan mimpiku. Aku sangat bersyukur berada di rumah sederhanamu semalam yang telah mengajarkanku banyak hal. Walaupun itu tidak lama, tapi sekarang aku mengerti tentang hidup. Terima kasih dan maafkan aku soal kemarin yang telah memperlakukanmu secara kasar.” Sebuah kata-kata yang membuatku terdiam, mungkinkah dia telah berubah hanya dalam semalam? Tapi, mata itu memperlihat sebuah keyakinan, matanya telah memperlihatkan sebuah kebaikan. Inikah sisi lain darinya.
    “Hana, namaku Hana.” Hanya itu yang bisa ke luar dari bibirku, setelah aku mendengarkan kata-katanya.
    “Hana ya? Bisakah aku berada di sampingmu untuk sekarang dan selamanya?” Katanya.
    “Aku tidak memiliki apa-apa, dan aku tidak sempurna. Aku juga tidak memiliki siapa-siapa, bahkan seorang teman pun aku tidak punya. Apakah kau memang benar-benar tulus mengatakan itu?”
    “Dasar bodoh! Tentu saja aku ini tulus mengucapkan itu. Aku ini ingin menjadi temanmu, apakah kau sekarang mencoba menolak seseorang yang akan menjadi temanmu ini?” Aku hanya tersenyum sambil mengeleng, untuk pertama kalinya aku tersenyum bahagia seperti ini.
    Ketika ada seseorang yang mengakui keberadaanmu dan berusaha membuatmu bahagia, saat itulah senyum itu berkembang. Sebuah kebahagiaan yang sangat sederhana sekali. Senyumannya telah membuatku bahagia. Memang benar bahagia itu saat melihat orang lain tersenyum karena kita. Aku ingin selalu seperti ini, tersenyum bersama hingga kami lupa kapan terakhir kita menangis. Hingga kita lupa kapan kita terjatuh, dan bangkit untuk bersama lagi. Dan sebuah kata sederhana itu telah mengubahku.

  2. Pemberi Harapan Palsu



    Cerpen Karangan: 

    “Cieh, yang berduaan terus sama motornya.” Ucap Putra, “Kapan kamu berdua sama cewek, besok malam minggu loh, masa sih diem di rumah lagi dan lagi?”Senin pagi yang cerah, rutinitas yang biasa dilakukan Rama adalah bangun pagi serta tidak lupa menggosok gigi baru deh mandi. Begitulah kelakuan anak muda yang kelakuannya suka diem di rumah jarang ke luar kecuali ada yang mengajaknya. Dan hari ini Rama kerja menjalani aktivitasnya sebagai pekerja karyawan di sebuah PT. Sendiri (ya sebut saja begitulah). Rama yang sering berangkat sendiri ke kantornya suka diledekin sama temennya, temen-temen Rama memang suka jahil, Putra dan Ridho adalah yang sering meledeknya ketika bertemu. Dan pernah suatu saat Rama bertemu dengan Putra dan selalu dikatain soal cewek.
    “Nanti, tunggu saja aku ini enggak murahan orangnya, Hahaha.” jawab Rama.
    “Alesan doang itu mah kamu, jomblo mah jomblo aja. Hahaha.” jawab Putra sambil ketawa bersama-sama.
    Rama dan 2 teman lainnya Putra dan Ridho adalah teman baik yang selalu saling support dalam bekerja, dan di luar pun mereka saling kompak, seperti sahabat. Putra dan Ridho sudah lama memiliki pacar, mereka langgeng dengan pacarnya masing-masing tapi tidak dengan Rama, dia hanya seorang pria kesepian yang ditinggalkan cinta, seperti lagu Sheila On 7 – Pria Kesepian.
    Senin, itulah hari dimana banyak orang membencinya entah karena apa, mungkin karena sendiri jadi gak ada yang semangatin. Sore harinya Rama balik dari kerjaannya dan kembali ke rumah membuka komputernya dan bermain, begitulah yang sering dilakukannya ketika tidak ada kegiatan.
    “tenenengneng, tenenengneng…” Nada suara SMS.
    SMS DARI DINDA.
    “Rama, lagi di mana? Mau aku kenalin cewek nih, seiman sama kamu dan juga pakai jilbab, sesusai kriteria kamu? Nanti kalau kamu mau tinggal nentuin aja harinya kapan mau ketemu?” Sms dari Dinda. Rama sempat kaget membacanya dan langsung membalasnya.
    “Wah serius nih Din? Namanya siapa? Aku mau tapi dia mau kenalan sama aku yang jelek ini?” bales Rama. Krining pesan terkirim.
    “Namanya Mira, tadi aku kasih tahu foto kamu juga dan dia mau kenalan, ah biasa aja ram dia bilang kamu manis kok ram, kalau aku yang bilang iya kamu jelek. Hahaha.” bales Dinda sambil sedikit meledekin Rama.
    “Kurang asem, okedeh kalau gitu Din. Jumat sore aku ke kampus kamu ya Din nanti kita ketemuan di sana. Makasih Dinda.” Bales Rama.
    “Iyaa sama-sama, semoga gak jomblo terus yaa Rama. Hahaha.” jawab Dinda.
    Dinda adalah teman baik Rama ketika waktu masa sekolah SMA dan Dinda tahu kalau Rama dari dulu kalau Rama ini orang jomblo yang caddas. Dan malam itu Rama kebingungan dan mencari tahu tentang infonya, tapi belum dapet. Rama menunggu dan menunggu sampai hari jumat itu tiba dan tidak lupa ngasih kabar ke temen-temen yang suka meledekinya, si Putra dan Ridho. Dan sampai hari jumat itu pun tiba Rama sabar menanti.
    Sore yang indah semoga menjadi sore yang baik, dan lancarkan harinya Rama Tuhan. Sekiranya doa Rama waktu bertemu adalah semoga wanita ini tidak sakit mata dan juga tidak kabur ketika melihat Rama. Sekilas bayangan tentang Rama, orangnya tinggi 170 cm, kulitnya sawo mateng, banyak yang bilang Rama manis, termasuk Wali kelasnya serta Guru Matematikanya waktu sekolah SMA, serta Rama orangnya humoris kalau kamu dekat dengan Rama dan juga akrab kamu baru tahu tentang dirinya.
    “Din, aku udah di dalam kampus kamu di dalam lobby kampus.” Sms Rama ke Dinda.
    Kampusnya cukup besar jadi Rama sedikit bingung, dan Rama juga belum mau melanjutkan kuliah karena ada alasan tersendiri dari Rama, mungkin ketika kamu menanyakannnya baru akan tahu kenapa dia belum mau melanjutkan kuliah.
    “Oke Ram, tunggu di sana ya sekalian aku bawa calon, si Mira.” Bales Dinda.
    Saat itu Dinda lagi ada kelas dan Mira lagi gak ada kelas jadi menjadi sebuah kesempatan untuk bertemu, kini jantung Rama berdegup dengan cepat seakan dikejar bencong laki.
    “Hai Ram, sorry ya lama ini lagi ada kelas aku usahain ke luar bentar. Tadi bilang izin ke toilet. Hehehe.” Sapa seorang wanita, Dinda. “Oh iya ini kenalin Mira.”
    “Wah jadi kamu ada kelas? jadi gak enak nih Din.” Jawab Rama, “Oh iya Mira, aku Rama temen SMA-nya Dinda.” Jawaban dari Rama yang kembali menjadi seorang lelaki pemberani kepada wanita.
    “Hai, nama aku Mira.” Jawab Mira.
    “Kalian lanjut dulu ya, aku mau kelas lagi ditunggu dosen.” Ucap Dinda yang langsung balik ke kelasnya lagi. Kini tinggal mereka berdua, Mira dan Rama.
    Seperti anak muda yang pertama kali berkenalan, saling membagi informasi dan juga basa-basi konyol yang sebenernya itu gak penting tapi ada dalam sebuah pertanyaan. Dan tidak luput juga mereka saling bertukaran nomor handphone. Jumat yang indah, begitu kata Rama. Hari ini Rama dapet kenalan baru yang masuk dalam kriteria Rama. Kedepannya Rama berharap dan bisa menjadikannya pacarnya melalui PDKT. Serta tidak lupa menanyakan, bagaimana caranya PDKT yang baik ke kawannya, Putra dan Ridho.
    Sabtu malam adalah pertama kalinya mereka melakukan kencan bareng sekedar bertemu dan juga makan bersama, berbagi suatu cerita dan informasi yang mendalam, seperti alamat rumah di mana, makanan favorit apa dan juga nomor sepatu berapa. Sekiranya nanti Rama akan memberikan sepatu, siapa yang tahu kan. Rama mulai yakin sama Mira, ketika sebuah pintu harapan yang diberikan oleh Mira seperti memberi kesempatan untuk Rama mendekatinya, ya begitulah Rama mengganggapnya.
    “Terima kasih ya udah mau-maunya ke luar sama aku.” kata Rama.
    “Iya, sama-sama Rama.” Jawab Mira.
    “Aku pulang dulu, kalau tidur nanti aku selalu ngucapin selamat tidur dan mimpi indah ya Mira dari rumah aku, kamu gak denger tapi bisa kamu rasakan.” Kata Rama.
    “Rama bisa aja nih, hati-hati ya pulangnya. Sekali lagi terima kasih Rama” jawab Mira.
    Sabtu itu menjadi kebahagiaan Rama, yang kini semua kelakuan Rama banyak berubah. Cintalah yang mengubahnya, dan ketika cinta sudah berbicara maka logika tak akan berjalan. Berhati-hatilah dengan cinta. Ketika cinta, kita dapat menguasainya kita akan merasakan keindahan cinta tersebut, tapi ketika cinta yang menguasai kita maka sungguh sulit apa makna cinta tersebut. Cinta buta terjadi karena mereka terlalu mudah dikuasai oleh cinta.
    Keesokan harinya Rama selalu chattingan sama Mira, seperti anak muda sekarang, seiring berjalannya waktu, sosial media membuat orang jadi mudah berkomunikasi. Chatting dan chatting kini Rama terlalu yakin atas apa yang dia tentukan, sampai suatu hari Rama akan janjian sama Mira untuk bertemu di suatu tempat makan atau sejenis cafe yang sudah dipesannya.
    Cafe Degrido…
    “Hai Ram, udah lama nunggu?” Kata Mira, “Maaf ya nunggu lama”.
    “Hai juga Mir.” Jawab Rama, “Ah enggak. Aku juga barusan dateng kok, ngomong-ngomong kamu cantik banget hari ini, silahkan duduk Mir.”
    Mereka memesan makanan dan minuman, tapi ada hal aneh yang dirasa oleh Rama. Semoga saja apa yang dilakukan Rama kali ini akan berjalan dengan lancar. Selesai memesan makanan dan menanti makanan tiba, Rama berkata.
    “Mir, ada yang mau aku omongin sama kamu.” Kata Rama.
    “Mau ngomong apa Ram?” Jawab Mira
    Pelayan datang membawa makanan yang dipesan. “Ini Mas makananya silahkan dinikmati.” Kata seorang pelayan cafe.
    “Makasih Mas.” jawab Rama. “Ya udah nanti aja, kita makan dulu aja ya Mir.” Kata Rama ke Mira.
    “Ih Ramaa kamu ini…” Jawab Mira yang sedikit penasaran.
    Mereka makan dan terus makan, Rama yang menanti timing atau waktu yang tepat untuk mengatakannya akhirnya tiba di pertengahan ketika makanan yang dipesannya udah lagi beberapa saja, Rama langsung berkata. “Sebenernya aku ngajakin kita ketemuan ada yang mau aku sampaikan.” Kata Rama yang berbicara secara gagap, dan Rama sedang grogi. “Sebenernya aku suka sama kamu, aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu. Kamu mau jadi pacar aku Mira?” Dengan setangkai bunga mawar merah yang berada di tangannya Rama memberanikan diri untuk mengatakan cintanya ke Mira.
    Ketika laki-laki pendiam yang gagal move on kini mendapatkan penggantinya untuk dicintainya dan harus berusaha menggungkapkan cinta, itu menjadi sebuah hal yang cukup menarik. Bukan seperti halnya para lelaki yang suka asal mengatakan cinta ke semua wanita. Rama adalah laki-laki yang susah deket sama cewek, kini Rama mendapatkan sesuai kriterianya tinggal menanti sebuah jawabannya.
    “Sebelumnya maaf Rama, aku juga sayang sama kamu. Tapi itu hanya sebatas teman, sekali lagi aku minta maaf Rama, bukan maksudku untuk bikin kamu kecewa. Tapi aku sudah punya pacar, dia adalah temen sekampus aku kita baru saja jadian. Kita masih bisa jadi teman seperti biasanya Rama.” Jawab Mira.
    Rama mendengarnya sambil tersenyum dan menarik napas dalam-dalam seperti ada yang menusuknya dari belakang, sesak tapi inilah cinta begitu kata Rama, sebelum menyatakan cintanya Rama sudah berpikir apa pun jawabannya Rama akan ikhlas menerimanya.
    “Iya gak apa-apa kok Mir. Langgeng ya kamu sama dia.” Jawab Rama dengan nada yang sedikit berbeda.
    “Maafin aku ya Ram, aku sungguh gak enak sama kamu.” Kata Mira.
    “Iya Mira, santai aja aku gak apa-apa.” Jawab Rama, “Ya udah kita pulang yuk, udah kenyang nih, udah malem juga.” Jawab Rama.
    Malem itu Rama mengantarkan Mira kembali ke rumahnya, mengantarkan sebuah kenangan terakhirnya, ketika sebuah harapan hanya menjadi sebuah khayalan saja. Ketika sampai di rumah Mira, Rama sedikit mengingat kembali ketika pertama kali Rama menjemput Mira untuk kencan pertamanya. Sebuah kenangan yang indah dari sebuah pendekatan. PDKT jangan terlalu lambat tapi jangan terlalu lamban juga nanti diduluin orang lain, dan sudah diisi orang lain nah kalau sudah begini juga susah mau nyalahin siapa juga gak ada.
    Ya memang belum waktunya Rama untuk mendapatkan kekasih yang dia idamkan. Kini Rama kembali menjalani rutinitas pagi harinya, rutinitas barunya menyetor ke kamar mandi terus tidak lupa menggosok gigi, berangkat ke kantor dengan wajah yang ceria dan tidak lupa permen karet yang dikunyahnya.
    “SELAMAT PAGI DUNIA”

  3. Dunia Game



    Cerpen Karangan: 

    Saat kami membuka mata kami ada di pedesaan yang berada di gamenya, “OMG, La.. Laila kita masuk ke game!”Hari yang cerah berawan, aku mengajak temanku untuk bermain game. Game itu cukup populer kami bermain dari siang hingga sore Sania sahabatku berkata.
    “Andai kita bisa masuk ke sana” katanya.
    “Huh gak ah, nanti disuruh ngelawan monsternya” tiba-tiba laptop yang ku buat bermain game online menjadi sangat bercahaya hingga kami memejamkan mata.
    “iya San aku gak percaya kita bisa masuk ke game” saat kita terkagum-kagum. Datang si monster yang jadi penjahat di dunia game itu. Sania dan Laila pun ketakutan dan berteriak, lalu datang tokoh utama di dalam game seorang pria dan wanita.
    “halo, aku Jack dan ini Adikku Rosa”
    “hai aku Rosa” kata kedua pahlawan itu.
    “halo juga aku Laila dan ini sahabatku Sania”
    “senang bertemu dengan kalian” kata Jack.
    “bisakah kalian mengembalikan kami ke dunia kami?” Kata Sania.
    “oh.. kalian dari bumi ya?” Kata Rosa.
    “iya..” kata Sania dan Laila bersamaan.
    “Bisa saja jika kalian mampu menjawab teka-teki dari Master Rustart, hanya dia yang bisa mengembalikkan kalian. Jika salah kalian akan tinggal di sini” kata Jack.
    “baiklah bawa kami ke sana” kata Sania.
    Saat sampai di sebuah tebing kita masuk ke goa, di sana ada seseorang. “halo Master mereka ingin pulang ke bumi bisakah kau membantu kami?” Kata Jack.
    Lalu ia menghampiri kami, “Baiklah tapi jawab dulu ini, lebih berharga dari harta, mudah melepaskannya, tapi tidak bisa mendapatkannya lagi apakah itu?” Lalu Sania berpikir.
    “Aha!! Nyawa!” ia menjawab.
    “benar sekali, masuklah ke pintu itu dan kalian akan kembali.”
    Mereka berdua masuk ke pintu yang sudah ditunjukkan. “dadaaa Jack, Rosa, dan terima kasih Master Rustart..”
    Tringgg!! dengan sekejap ia sudah ada di rumahnya.

  4. 2015 Dalam Kenangan Ku



    Cerpen Karangan: 

    “Sudah bab berapa yen?” Model pertanyaan yang seperti ini ni yang kadang buat aku selalu malas untuk menjawabnya.“Yen…” Sapa seorang teman di pagi itu saat aku ingin menuju perpus.
    “Iya?” Jawabku singkat.
    “Buru-buru amat, mau ke perpus juga?”
    “Iya, ingin memperpanjang buku..” Jawabku agak ketus.
    “Masih jalan pokoknya. Mohon doanya saja ya bro.. Heee.”
    “Ah selalu dirimu tu… Jawabannya selalu saja begitu.” Aku cengir-cengir bangau saja. Ketika si teman berkata begono.
    Setelah memperpanjang buku di perpus, kemudian aku duduk di kursi taman depan perpus. Ku pandangi setiap sudut kampus ini. Tidak terasa hampir selesai juga aku berada di kampus ini. Dan bentar lagi aku akan meninggalkannya. Batinku berkata… “Haaaaa…” aku menghela napas panjang. Dan masih memandangi setiap sudut kampus.
    “Bentar lagi tahun baru nih, sudah ada rencana mau merayakannya di mana?”
    “Eh gaesss tahun baru nanti, kita rayain di rumah gue aja ya, gue juga sudah bilang dengan bonyok gue. Dan sudah dapat izin.”
    “Awal tahun baru nanti rencananya gue dan teman-teman SMA gue ingin liburan ke Yogyakarta”
    Sekejap aku mendengarkan perbincangan sekelompok anak-anak cewek yang juga lagi duduk di kursi sebelahan tidak jauh dari tempat aku duduk. Mereka membicarakan tentang rencana mereka menyambut awal tahun nanti. Kalau ngomongin awal tahun. Tak terasa ya sudah di penghujung tahun saja sekarang. Hmmm kalau ditanya ada kenangan atau tidak di tahun 2015 ini. Ya jelas pasti ada dong.
    Semua orang pun pasti memiliki kenangan tersendiri dari setiap tahunnya, baik itu kenangan yang indah, terharu, bahkan sedih sekali pun. Tak terkecuali aku. Namaku Yeni Herlinda. Anak ketiga dari tiga bersaudara. Tapi sorry ya aku bukan anak manja. Agak nyolot!!! Aku seorang mahasiswi semester akhir, yang sekarang sedang berjibaku dengan tugas akhir. Hee. Mohon doanya ya… Semoga cepat kelar (aamiin).
    Well, kembali ke kenangan. Ku ingat awal tahun, bulan JANUARI bisa dikatakan itu adalah bulanku. Karena aku lahir di bulan tersebut. Bukan hari lahirnya yang menjadi spesial, melainkan kado yang diberikan oleh sahabat SD-ku, yang sekarang ia juga menjadi aktivis di kampusnya. Yaitu sebuah buku dari penulis favoritku, Ahmad Rifa’i Ri’fan. Karena ia tahu kalau aku mengidolakannya. Dan judul bukunya sangat menggetarkan seluruh tubuhku (tidak lebay…ini serius).
    ‘IZRAIL BILANG INI HARI TERAKHIRKU” ya itulah judul bukunya. Di dalam bungkusnya ada catatan kecil yang berisikan doa darinya untukku dan katanya jangan terlena dengan kehidupan duniawi, anggap saja ini adalah hari lahir yang terakhir. Huaahh. Aku nangis gaesss. Aku terharu dan tersentil sekali dengan kalimatnya. Jujur aku sangat senang dapat kado buku itu, karena saat ku baca isinya. Membuatku jadi semangat untuk melakukan perubahan dalam hidup ini ke arah yang lebih baik lagi. Dan memanfaatkan sisa umur yang ada. Terima kasih sahabat atas kado yang spesial ini.
    Bulan FEBRUARI adalah bulan diagendakannya TEMILREG (Temu Ilmiah Regional) FoSSEI Sumbagsel, di mana PAKIES (Pusat Kajian Ekonomi Islam) UIN Raden Fatah Palembang yang menjadi tuan rumahnya. Aku sendiri turut bangga menjadi bagian dari anggota PAKIES. Karena agenda tersebut mengundang seluruh KSEI (Kelompok Studi Ekonomi Islam) se-sumsel. Unila, IAIN Raden Intan Lampung, STAIN Curup Bengkulu, UNIB, dan UNSRI. Alhamdulillah dapat berjalan dengan lancar agendanya. Hari pertama dibuka dengan seminar, hari keduanya lomba-lomba dan malamnya pembagian hadiah, dan hari ketiganya fieldtrip. Agendanya terbilang sangat sukses. Panitia-panitianya pun sangat luar biasa. Adik-adik PAKIES.
    Berlanjut ke bulan MARET. Di bulan ini aku dan 5 orang teman di jurusanku -Tatan, Khosim, Zaidan, Tanti, dan Risna- magang di BMT Al Barokah Kertapati Palembang. Aku begitu sangat menikmati kegiatan magang tersebut, selain dapat ilmu aku pun mendapatkan keluarga baru. Walaupun hanya 1 minggu, tapi sangat bermakna. Kami yang berlatar belakang dari kelas yang berbeda dapat dipertemukan dalam satu kelompok.
    Karakter kami yang bermacam-macam pun menjadi bumbu pertemanan kami untuk saling melengkapi. Ada yang rajin sekali, pagi-pagi sudah datang (seharusnya memang kayak gitu. Heee), ada yang pendiam, jahil, cuek, dan suka ngobrol. Aku dan Zaidan yang sering sekali ngobrol dan sempat-sempatnya kami membahas pemilhan raya di kampus saat itu. Hehe. Maklum sama-sama aktivis, tapi berbeda organisasi. Dan di hari terakhir magang karena sok pengen cuci piring padahal aku juga yang akhirnya nyuci, eh Zaidan memecahkan gelas, katanya tersenggol. Haaa. Dan aku sangat puas meledeknya, “Nah loh dan pecah. Ganti..ganti… Hehe..”Entahlah sudah diganti olehnya atau belum sampai sekarang.
    APRIL dan MEI. Tidak ada peristiwa yang berkesan bagiku di kedua bulan itu. Semua berjalan datar-datar saja. Flatttttt. Hehe. Bulan JUNI. Bulan ini sangat dinanti-nantikan oleh seluruh umat muslim di dunia ini. Karena bulan ramadhan tahun ini bertepatan dengan bulan juni. Dalam rangka menyambut datangnya bulan ramadhan, seluruh ormas Islam dan warga muslim palembang mengikuti Tarhib Ramadhan. Termasuk aku.
    Tahun dulu juga pernah mengikuti, tapi itu sangat beda dengan Tarhib Ramadhan tahun ini. Yang membuat bedanya adalah seluruh umat islam dari berbagai organisasi dapat bersatu menyukseskan agenda penyambutan bulan suci ramadhan ini. Dan yang hadir sangat banyak, memadati BAM (Bundaran Air Mancur) dan halaman depan masjid Agung.
    Di bulan ini juga aku dan teman-teman seorganisasiku yang seangkatan, kami sering menyebutnya PAHLAWAN 11. Yunowat? Yes, benar sekali PAHLAWAN itu adalah tema di saat kami perkenalan ospek dulu. Entah apa kepanjangannya, lupa. Dan 11 adalah tahun angkatan kami, 2011. Nah, tepatnya di hari ke-10 ramadhan, kami mengadakan buka puasa bersama. Dulu di tahun 2012 kami juga pernah ngadain, tapi setelah itu sudah tidak lagi. Dan di tahun ini kami mengadakannya lagi. Karena kemungkinan ini yang terakhir.
    Pasca lulus nanti tidak tahu juga, masih dapat berkumpul lagi atau tidak. Enden, kami ingin bukber kali ini di buat beda. Setelah beberapa kali musyawarah. Akhirnya disepakati kalau agenda bukber dan juga membagikan menu buka puasa ke panti asuhan. Aku sangat senang sekali, karena siangnya kami yang perempuan memasak semuanya itu. Walau aku hanya ikut bantuin motong-motong dan cuci-cuci saja. Hehehe.
    Beranjak ke bulan JULI. Hmm bulan ini sepertinya bulan yang paling tidak bisa aku lupakan seumur hidupku. Ini adalah bulan yang sangat menyedihkan bagiku. Namun inilah takdir yang Allah gariskan. Kita bisa berencana tapi tetap saja Allah yang menentukan semuanya. Tepat di tanggal 25 Juli, masih dalam suasana lebaran. Seorang sahabat terbaikku meninggal dunia. Anita Harumsari. Almarhumah meninggal karena tragedi kecelakaan yang berawal dari motornya oleng. Aku benar-benar merasa kehilangan.
    Nita adalah temanku dari SMP hingga SMA. Dari awal MOS Di SMA kami selalu bersama, dan saat kelas X aku juga duduk sebangku dengannya. Nita itu sangat baik. Tidak pernah bermuka masam, dan selalu tersenyum. Ramah dan tidak pernah pelit untuk berbagi ilmu. Sudah hampir 5 bulan ini Nita meninggalkan kami semua. Semoga Nita di sana semakin tenang. Miss you, Ta. Bulan AGUSTUS-SEPTEMBER-OKTOBER Sepertinya tidak ada hal yang terlalu spesial. Ku jalani aktivitas dengan biasa saja. Flaattttt.
    NOVEMBER… Bulan ini Pak Beye datang ke kampus kami. Tapi aku sendiri tidak ke kampus ketika itu. Sengaja!!! Heee. Bukan Pak Beye yang membuat bulan ini tidak bisa aku lupakan. Melainkan kumpulnya kembali kami berlima (aku, Mput, Biya, Ana, dan Atika). Sahabat yang sudah lama sekali tidak bersua. Huahahaha. Lebay!!!
    Ini bermula dari hari lahirnya Biya. Yang kami berempat tidak mengucapakan langsung kepada Biya. Atau sekedar, HBD Biya. Tidak sama sekali. Teman apaan kami ini ya!!! Maaf Biya bukannya lupa tapi hanya tidak ingin mengucapkan saja, kalau aku pribadi. Aku sangat ingat, apalagi tanggal lahirmu mudah sekali diingat tanggal 11 bulan 11. Tapi yang lucunya lagi mungkin ini karena kekuatan batin kali ya.
    Ketiga temanku yang lainnya juga tidak mengucapkan langsung. Heee. Kompak, tidak gitu-gitu juga kaleee… (Cengir bangau) Akhirnya kami berempat merencanakan sesuatu agar Biya tidak marah lagi. Tanggal 22 November kami gujuk-gujuk pergi menuju rumah Biya dengan membawa kue, balon, dan kado. Kami sengaja tidak memberitahu Biya. Kami juga mengajak adiknya Biya, Nadia, untuk bekerjasama. Setelah dicari-cari akhirnya kami pun sampai di depan lorong rumahnya Biya. Lalu atika menelepon Nadia.
    “Dek, kami sudah di depan lorong nih. Rumahnya yang mana?”
    “Maju lagi Mbak. Rumah warna merah tidak jauh dari lorong. Nanti aku jemput Mbak”
    “Oke kami maju ya. Oya dek bawa korek api ya”
    “Oke Mbak”
    Setelah Nadia datang menghampiri kami. Perlengkapan sudah siap semua. Gooooo… Kami langsung menuju ke rumah Biya. Di depan rumah nampaknya ada Abi Biya yang sedang mengobrol dengan tetangganya. Lalu kami masuk, dan ternyata Biya ada di kamarnya. Kami pun menuju kamarnya. Kami gedor-gedor… dan akhirnya Biya ke luar. “Suurrrrpprriisseee…” Tujuan dari kami ngerencanain itu semua, selain ulang tahun Biya.
    Subtansinya yang lain adalah untuk menyambung kembali silaturahmi kami berlima. Karena setelah Ana dan Mput yang wisudanya sudah duluan dan juga sudah sibuk kerja, kami yang juga sudah disibukkan oleh skripsi masing-masing. Jadi intensitas kami bertemu pun sudah jarang sekali. Di hari itu kami menghabiskan waktu bersama. Kami bersahabat sudah dari awal masuk kuliah dan alhamdulillah masih awet sampai sekarang, dan kalau bisa sampai akhir hayat. (aamiin)
    DESEMBER adalah bulan penutup akhir tahun. Tepatnya di awal bulan kemaren. Allysa Soebandono dan Dude Herlino datang ke kampusku. Allysa didaulat sebagai pengisi acara muslimah sehat dan cantik, dan tutorial hijab. Mungkin yang ada di luar sumatera untuk bertemu dengan Allysa dan Dude itu sangatlah mudah. Apalagi yang tinggal di Jakarta. Tapi tidak dengan Palembang. Itulah antusias dari masyarakat saat mendengar Allysa dan Dude ingin datang ke kampus UIN RADEN FATAH PALEMBANG sangat begejolak. Namun tidak sebanyak saat menyambut kehadiran Pak Beye bulan lalu.
    Aku dan adik tingkatku 2 orang. Yuyuni dan Amal. Saat itu rencananya kami ingin berdiskusi tempatnya di sebelah gedung AC yang akan ada acara Allysa itu. Biasanya juga kami sering di situ. Saat kami baru akan memulai bincang-bincang kami. Pak satpam menghampiri kami dan bilang kalau Allysa akan lewat jalan ini, jadi kami diminta untuk mencari lokasi lain. Katanya juga panitia yang meminta, karena panitia tidak berani langsung ngomong dengan kami. Dengan kata lain kami diusir. Oke fine!!! Lalu, tidak jauh gontai langkah kaki kami melangkah dari tempat itu.
    “Dek… dek..”
    “Sepertinya ada yang memanggil kita Mbak,” kata Yuyuni adik tingkatku. Ternyata pas kami berbalik ke belakang, seorang laki-laki yang umurnya sekitar 35-an, memanggil kami.
    “Kami Pak?” tanyaku ragu.
    “Iya kalian bertiga.”
    “Ada apa Pak?”
    “Kalian bertiga masuk saja ke dalam gedung, daripada tidak ada kerjaan”
    “Tapi kami tidak beli tiket Pak” kata Amal.
    “Tidak apa-apa. Kalian masuk saja. Bilang disuruh Pak Dayat dengan panitia regristrasinya,” kemudian sejenak aku bepikir.
    “Mbak ayo Mbak masuk ke dalam, pengen lihat Dude.” rengek Yuyuni yang membujukku agar masuk ke dalam. Karena ia memang mengidolakan pasutri itu. Apalagi dengan Dudenya. Haa.
    “Yoyo payo…” spontan Yuyuni langsung menarik tanganku. Dan aku pun menarik Amal untuk masuk. Karena Amal tidak mau ikut masuk. Akhirnya kami bertiga dapat masuk dengan gratis. Dan kami pending dulu diskusi kami.
    Lalu yang ditunggu-tunggu pun akhirnya naik ke atas panggung. Heboh suara dari kaum hawa berteriak. Waduhhh. Untung saja tidak pecah nih gendang telinga. Dan gedung AC pun tidak roboh seketika. Nampaknya hanya aku dan Amal yang berekspresi flat. Haha. Tapi lumayanlah dapat melihat wajah Allysa dan Dude di dunia nyata. Karena biasanya lewat tv. Dari sekian banyak kenangan yang telah terangkum di tahun 2015 ini. Hanya hal-hal yang di ataslah yang sampai saat ini masih terekam kuat di dalam memori otakku.

  5. A Miracle of Allah



    Cerpen Karangan: 
    Aku adalah sahabatnya Naira dari kecil dan kedua orangtua kami pun sudah sangat kenal dekat. Aku ingin bercerita tentang sahabatku Naira yang berjuang akan penyakitnya hingga sampai saat ini ia pun masih dapat menghirup udara segar dunia ini. Ku ingat saat aku berumur 8 tahun dan begitu juga dengan Naira. Ayah berdialog dengan ibu mengenai Naira.Namanya Naira Safira. Ia adalah anak ketiga dari tiga bersaudara. Ia mempunyai satu orang kakak perempuan dan satu orang kakak laki-laki. Naira anak yang periang, cerdas, dan selalu optimis dalam melaksanakan apa pun termasuk dalam menjalani kehidupannya. Dan namaku Ayunda Saputri.
    “Bu, tadi Bagas menelepon Ayah katanya tadi sore menjelang magrib anaknya Naira kembali masuk ke rumah sakit.” Ujar ayah. “Loh kenapa? Sakit apa Naira?” tanya ibu pada ayah.
    “Ayah juga nggak tahu Bu. Tadi Bagas hanya bilang kalau Naira masuk rumah sakit dan memberitahu kalau Naira dibawa ke rumah sakit Medica. Ayo sekarang kita siap-siap Bu dan langsung berangkat ke rumah sakit Bu.” Kata ayah pada ibu.
    “Oiya yah, ibu siap-siap bentar. Tapi yah Ayunda gimana, mau ditinggal atau diajak?”
    Tidak lama dari ibu berbicara kepada ayah, dan ayah pun belum sempat menjawabnya. Aku yang dari tadi sudah mendengarkan percakapan mereka lalu langsung beranjak pergi ke ruang tamu, dan berkata “Yah, Bu, Ayunda ingin ikut jenguk Naira.” Ibu dan ayah langsung saling melihat, lalu ibu bilang padaku dengan tersenyum, “Oya boleh. Ayunda boleh ikut. Ambil jaketnya gih…” Aku pun langsung ke kamar untuk mengambil jaket agar tidak kedinginan. Dan ayah sudah di garasi untuk memanaskan mobil. Tak lama dari itu kami langsung berangkat menuju rumah sakit.
    Satu jam menempuh perjalanan akhirnya kami pun sampai di rumah sakit. Diantar oleh suster kami ke ruangan Naira. Ternyata saat ku lihat itu adalah ruang UGD. Lalu ayah langsung menemui Om Bagas papanya Naira. “Gas, Naira sakit apa?” tanya ayah pada Om Bagas.
    “Tadi sore habis mandi ia terkapar di depan pintu kamar mandi saat mamanya mengecek kamarnya, Mamanya kaget dan langsung teriak memanggilku. Naira sempat berbicara katanya kakinya sakit dan terasa sangat sesak napasnya setelah itu ia pingsan. Jadi langsung saja aku dan Mamanya membawanya ke rumah sakit. Ternyata penyakitnya saat masih bayi dulu kembali lagi dit.”
    “Jantung lemahnya. Ini dikarenakan aku yang menurunkannya, kamu tahu kan kalau aku sudah ada penyakit jantung ini semenjak SMA baru ketahuan. Dan sekarang menular pada anakku yang paling bungsu, aku sangat tidak menyangka dit. Karena kedua Kakaknya tidak. Naira sekarang yang menderita penyakit jantung lemah.” Om Bagas pun sangat terpukul dengan keadaan Naira. “Kamu yang sabar gas. Naira akan sembuh insya Allah…” Ujar ayah sambil memegangi pundaknya Om Bagas. Om Bagas pun menunduk dan menangis.
    Memang penyakit jantung lemah merupakan kelainan bawaan sejak lahir. Setiap orang yang menderita penyakit ini ia tidak dapat melakukan aktivitas secara berlebihan, karena akan dapat menimbulkan rasa sakit di dada serta cenderung pingsan. “Nai… Nai.. Naira ayo bangun, cepat bangun. Biar kita bisa bermain lagi di taman depan rumahmu.” Aku memangil Naira dari jendela kamar, sambil menangis. Aku saat itu hanya dapat melihatnya lewat jendela kamar. Karena aku tidak diizinkan masuk waktu itu oleh susternya.
    Keesokan harinya saat di sekolah aku merasa kesepian. Karena Naira ada di rumah sakit. Teman-teman juga banyak yang menanyakan Naira. Karena kelas terasa sangat sunyi saat Naira tidak ada. Biasanya ia selalu menjadi pusat perhatian seisi kelas karena sifat riang dan celotehnya yang membuat semua orang jadi merindukannya. Siang itu sepulang sekolah aku dan beberapa teman kelasku serta wali kelasku berencana untuk membesuk Naira di rumah sakit.
    Namun saat itu juga ibuku sudah ada di depan pagar sekolah. Aku diajak ibu dulu ke butiknya. Jadi nanti aku kan menyusul dengan ibu. Padahal aku sangat ingin langsung melihat Naira. Aku pun langsung naik mobil dengan wajah cemberut. “Sayang, tenang saja. Ibu cuma sebentar, setelah itu kita langsung ke rumah sakit menjenguk Naira.” Kata ibu sambil menstarter mobil dan langsung tancap gas.
    Saat tiba di rumah sakit ternyata teman-teman kelasku dan wali kelas kami baru saja pulang sekitar 20 menit yang lalu kata mamanya Naira. Ibu mengobrol dengan mamanya Naira, lalu aku memotong pembicaraan mereka. “Tante aku pengen masuk ke dalam mau lihat Naira dari dekat, boleh nggak te?” tanyaku pada mamanya Naira. Karena aku sangat ingin masuk dari semalam tapi belum diizinkan karena kondisi Naira yang masih kritis. “Boleh sayang, Ayunda masuk saja. Yuk kita masuk bareng.” Mamanya Naira mengantarkanku ke tempat Naira.
    “Nai… kamu kapan bangunnya? Aku kesepian Nai di sekolah. Nggak ada teman. Ayo Nai kamu cepatan bangun.” Aku memegang tangan Naira, tapi tetap saja Naira belum juga sadar.
    Aku pun membawakan Naira gambaranku pas di sekolah tadi, aku menggambar diri Naira dan aku yang sedang duduk di taman sambil melihat indahnya pelangi. Lalu ku letakkan di tangan Naira. “Yaa Allah tolong sembuhkan Naira. Ayunda sangat menyayangi Naira. Ayunda pengen lihat senyum Naira lagi. Tolong sembuhkan Naira ya Allah.” Aku berdoa dalam hati. Kemudian ibu mendekatiku dan mengajakku untuk pulang karena hari pun sudah petang. Aku pun pamit pulang dengan Naira. “Nai… aku pulang dulu ya. Aku akan kembali besok.”
    Setelah 5 hari berada di rumah sakit tepatnya di hari kelima itu. Barulah Naira siuman dari komanya. Alhamdulillah… Semua yang ada di ruangan itu termasuk aku sangat senang dan tak henti-hentinya aku mengucap syukur kepada Allah SWT. “Terima kasih ya Allah…” batinku berkata. Aku langsung mendekat Naira, dan Naira pun tersenyum melihat gambaranku yang sekarang ada di tangannya dan ia telah melihatnya. “Aku yakin Nai kamu pasti akan sadar, karena Allah sayang denganmu. Dan kamu akan tetap bertahan hidup untuk selamanya. Kan kita sahabat untuk selamanya.” Aku berkata pada Naira sambil tersenyum dan memegang tangannya.
    Dari tahun ke tahun Naira menunjukkan progress yang sangat baik. Ia semakin sehat dan sudah jarang bolak-balik ke rumah sakit. Semangatnya untuk hidup sangat kuat. Aku salut dengannya. Namun saat ia menginjak kelas 2 SMP. Om Bagas papanya Naira meninggal dunia karena penyakit jantungnya yang sudah terlalu akut hingga akhirnya tidak dapat diselamatkan. Sempat Naira merasa benar-benar terpukul akan kejadian itu. Namun ia juga sudah dapat mengikhlaskan kepergian papanya setelah satu bulan berlalu.
    Ketika pengumuman UN. Aku dan Naira lulus dan dengan nilai yang sangat memuaskan. Dan saat masuk SMA, kami berdua tidak lagi mengikuti tes masuk seperti siswa/i yang lainnya. Kami lulus tes jalur PMDK. Jadi tidak perlu untuk tes lagi. Sungguh kami sangat senang sekali dapat bertemu lagi sampai ke jenjang SMA. Hari demi hari pun kami lalui di sekolah kami yang baru. Seragam sekolah yang baru. Dan pastinya teman-teman yang baru pula.
    Saat di SMA Naira benar-benar sangat membaik, bahkan ia pun sudah jarang mengkonsumsi obatan-obatan yang biasanya ia minum. Saat ku tanya, “Nai, kamu nggak lagi minum obatnya ya? Kok sudah 2 hari ini aku nggak lihat kamu meminumnya saat jam istirahat.” Tanyaku heran padanya.
    “Hehe… iya Ay aku nggak lagi meminumnya. Aku juga sudah cape terus-terusan minum butiran-butiran pil itu. Aku pengen sembuh secara alami tanpa harus ada obat-obatan dan rumah sakit.” Dengan enteng dan tersenyum ia menjawab.
    “Tapi nai…” belum sempat aku melanjutkan kalimatku, Naira langsung memotongnya. “Heee. Aku tahu Ay apa yang ingin kamu katakan. Tenang saja, insya Allah aku baik kok, kamu doain aku terus ya, semoga tetap selalu sehat, kan kata sendiri waktu 7 tahun yang lalu saat aku terbaring di rumah sakit. Bahwa kita akan selalu terus bersama karena kita adalah sahabat untuk selamanya… Iya kan Ay?” Ucapnya sambil tersenyum dan mengangkat alisnya sebelah kanan, sembari merangkul pundakku.
    Naira tetap pada sikap cerianya, ramah, dan selalu tersenyum. Penyakit jantungnya yang lemah itu sepertinya sudah benar-benar menghilang dari dirinya. Ia benar-benar bangkit dari masa-masa terpuruknya dulu, yang sempat divonis oleh dokter kalau hidupnya hanya akan bertahan sebentar. Namun dengan tekadnya yang selalu berusaha untuk membuat dirinya sehat selalu. Mungkin inilah yang disebut dengan A Miracle Of Allah. Sebuah keajaiban yang berasal dari Allah SWT. Karena tidak ada yang tidak mungkin jika Allah sudah berkehendak.
    Sekarang ia sangat menikmati hidupnya dan selalu membuat mama dan kakak-kakaknya bangga akan prestasi yang ditonjolkannya. Ia juga pernah mendapatkan beasiswa S2 di Malaysia. Sekarang ia menjadi salah satu dosen di UI tepat kami kuliah dulu, dan juga sekarang ia lagi tahap penyelesaian gelar doktornya di Universitas Surabaya. Naira yang ku kenal dari dulu sampai sekarang adalah sosok yang mempunyai sikap optimis. Aku pun sangat senang sekali menjadi sahabatnya dan ia juga telah memberikanku banyak pelajaran tentang bagaimana menjalankan hidup dengan semestinya. Ia pun menjadi inspirasi bagiku sampai kapan pun.